Halaman

Senin, 01 Oktober 2012

Mukzizat Rasulullah SAW ( Membelah Bulan)




Salah satu dari sekian banyak mukjizat Rasulullah s.a.w adalah bisa membelah bulan.

Peristiwa besar ini terjadi di Mekah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah,
dan juga telah diabadikan Allah dalam al-Qur'an surah Al-Qamar ayat 1:
"Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah.

Kisah ini juga diperkuat oleh Rasulullah sendiri dalam hadistnya yang diriwayatkan
oleh Anas ra.: "Bahwa penduduk Mekah meminta kepada Rasulullah saw untuk
diperlihatkan kepada mereka satu mukjizat (tanda kenabian),
maka Rasulullah saw. memperlihatkan kepada mereka mukjizat terbelahnya bulan
sebanyak dua kali."

Peristiwa besar yang terjadi sekitar 14 abad yang silam ini telah terbukti kebenarannya
oleh orang-orang non-muslim tanpa mereka sadari.
Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb al-Islamy Inggris adalah salah seorang yang mendapat
hidayah dari Allah melalui peristiwa agung ini.
Dalam acara temu wicara di sebuah stasiun televisi bersama pakar geologi Muslim
Prof. Dr.Zaghlul Al-Najar beliau membeberkan sekelumit kisahnya sehingga ia masuk
ke agama Islam.
Bermula dari keingintahuannya terhadap kandungan yang terdapat dalam berbagai macam
agama beliau mencoba meneliti agama-agama satu persatu, termasuk juga agama Islam.
Pada suatu saat beliau membaca surat Al-Qamar yang berbunyi, "Sungguh telah dekat
hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah".
Setelah membaca ayat tersebut pikirannya pun menerawang jauh seraya hatinya berkata-kata,
"Apa mungkin hal ini bisa terjadi?" Lalu dengan skenario Allah ia pun akhirnya menemukan
jawabannya.
Di saat beliau menyaksikan acara diskusi antara seorang presenter Inggris dengan
Tiga orang pakar luar angkasa Amerika Serikat di sebuah televisi Inggris dimana pada
mulanya membahas tentang dana besar yang telah dikeluarkan oleh Amerika-
di mana pada saat itu masyarakatnya sedang mengalami kelaparan dan kemiskinan-
untuk pendanaan penelitian di antariksa, dan akhirnya sampai kepada pemaparan
dimana dana sebesar 100 juta dollar yang telah dikeluarkan Amerika tidak ada apa-apanya
dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah mereka dapatkan,
yaitu bahwa "bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala,
kemudian menyatu kembali" (lihat www.Stormpage.com).

Setelah mendengar hal tersebut serta merta Daud Musa Pitkhok yakin
dengan kebenaran Al-Qur'an yang telah dibacanya.
Hidayah Allah tertancap ke dalam sanubarinya dan menyatakan kebenaran Rasulullah.
Akhirnya ia pun tak ragu-ragu lagi memproklamirkan keislamannya.
Setelah peristiwa "terbelahnya bulan" terjadi, mereka yang menyaksikannya sebagian
beriman sebagiannya lagi mengatakannya bahwa peristiwa itu adalah sihir
dan tipu muslihat Muhammad belaka.
Namun untuk membuktikan kebesaran-Nya dan kebenaran rasul-Nya Allah tidak berhenti
sampai di situ saja.
Jika hal itu memang sihir hanya mereka yang di tempat saja yang bisa menyaksikannya.
Karena peristiwa itu bukan sihir maka semua orang dapat melihatnya.
Sebagian mereka bertanya kepada orang-orang yang baru datang dari perjalanan,
"Apakah kalian menyaksikan ada hal yang aneh dalam perjalanan kalian?"
"Iya, ada" Jawab Mereka. "Kami melihat bulan terbelah, dan saling menjauh.
Setelah itu ia menyatu kembali."
Jika dicermati lebih dalam apa yang diterangkan Allah dalam surah Al-Qamar ayat 1
di atas terdapat korelasi yang saling kait mengait antara mukjizat Rasulullah membelah
bulan dengan hari kiamat.
Bukankah ketika Rasulullah membelah bulan kiamat belum terjadi?
Tapi Allah mengaitkan peristiwa terbelahnya bulan itu dengan akan datangnya hari kiamat,
karena di hari kiamat nanti seluruh alam raya akan hancur berantakan.
Sebelum kita dipersaksikan dengan kiamat sesungguhnya Allah telah menunjukkan bahwa
Ia mampu membelah bulan dan menyatukannya kembali. Jadi, seperti kata pepatah
"sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui."
Demikian juga Allah telah menurutkan surat Al-Qamar ayat 1,
Selain bermaksud memberikan stempel bukti kebenaran Rasulullah beliau juga
mengisyaratkan bahwa Dialah Pengatur dan Pelebur jagad raya ini...
Wallahu a'lam bisshowab.

* oleh : Erwin Ashari,� mahasiswa Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir, Fak. Syariah.







Luas Neraka



 
Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra.
berkata: Jibril datang kepada Nabi saw pada waktu yg
ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya,
maka ditanya oleh nabi s.a.w.: ``
Mengapa aku melihat kau berubah muka?``

Jawabnya: ``Ya Muhammad, aku datang kepadamu
di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan
api neraka, maka tidak layak bagi orang yg
mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar,
dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar
untuk bersuka-suka sebelum ia merasa
aman daripadanya.``

Lalu nabi s.a.w. bersabda: ``Ya Jibril, jelaskan padaku
sifat Jahannam.
``Jawabnya: ``Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam,
maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah,
kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih,
kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap,
tidak pernah padam nyala dan baranya.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak,
andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan
dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.


Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak,
andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara
langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi kerana
panas dan basinya.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak,
andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam
Al-Qur'an itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai
ke bawah bumi yg ke tujuh.
Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak,
Andaikan seorang di hujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar
orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya,
Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi,
dan minumannya air panas campur nanah, dan
pakaiannya potongan-potongan api.

Api neraka itu ada tujuh pintu,
tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang
laki-laki dan perempuan.
``Nabi s.a.w. bertanya: ``Apakah pintu-pintunya bagaikan
pintu-pintu rumah kami?``
Jawabnya: ``Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah
dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun,
tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda.
`` (nota kefahaman: yaitu yg lebih bawah lebih panas).
Tanya Rasulullah s.a.w.: ``Siapakah penduduk masing-masing pintu?
`` Jawab Jibril: ``Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik,
dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s.
serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.
Pintu keempat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir.``

Kemudian Jibril diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya?
``Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?``
Jawabnya: ``Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu
yg sampai mati belum sempat bertaubat.``
Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu,
sehingga Jibril meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sadar
kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda:
``Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku,
apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?``
Jawabnya: ``Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu.``
Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis,
kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk
sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan
bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.
(dipetik dari kitab ``Peringatan
Bagi Yg Lalai``)

Dari Hadith Qudsi:
Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat
dengan panasnya terik matahari Ku.
Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu:

1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat.
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah.
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung.
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah.
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak.
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum.
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular.
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10.Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai.
11.Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat.



Jumat, 21 September 2012

Pengakuan Sandriana Malakiano (Mantan Presenter Metro TV) yg Dilarang Siaran Karena Berjilbab

'"


kenapa Sandriana Malakiano tak pernah nyiar & baca berita lagi di metro tv.
 inilah Pengakuannya.

.
Tampaknya demokrasi dan kebebasan beragama kita semakin hilang, hal ini bisa terlihat dari seorang Sandrina Malakiano Fatah yang dipaksa untuk melepas jilbanya atau terus siaran. Tanpaknya Metro TV lebih menginginkan wanita menggunakan bikini atau busana yang mengundang sahwat bagi pria.

Pengalaman Sandrina Malakiano Fatah ini diambil dari Facebooknya yang menunjukkan bahwa cara berfikir orang-orang yang merasa liberal justru sudah masuk kejurang pengekangan terhadap kebebasan orang lain untuk memilih.

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa – sebagaimana Islam mengajarkan – di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang
tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta,
akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses
negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh
penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi
Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada
sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri.
Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya
buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan
presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah
menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar,
ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI
Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan
pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang
terbaik dan bahwa "dunia tak selebar daun Metro TV', saya bergeming
dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan
mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu
saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah
sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro
TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di
rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu.
Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat
inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di
ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya
mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik.
Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak
keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri
memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host
dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para
profesor di acara "Ensiklopedi Al Quran" selama Ramadhan tahun lalu,
misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman
baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif,
dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu
Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia,
mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap
kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan
mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan,
bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang
kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih
kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu
mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada
akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan
personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian
seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena
sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari
siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa
tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut
puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku
dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro
TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle –
seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai
sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua – di sebuah lembaga
nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang
dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan
saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan
sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan
Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu
komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, "Kamu
tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar."

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara
diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu
pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di
tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang
dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana
mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan
berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga
semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh
hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan
kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung
meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme –
mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya – ternyata bisa
bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal..

Senin, 20 Agustus 2012

Pesan Perkawinan



Saat Isteri Menjadi Madu .. Teguklah Sepuasnya..
Seketika Isteri Menjadi Racun .. Suami lah penawar wisanya..
Seandainya Isteri adalah Tulang yg Bengkok .. Berhati-hatilah dlm Meluruskannya..

♥ Perkawinan itu Mengajarkan Kita perlunya iMan & Taqwa dlm Meniti sabar & ridho terhadap-Nya ♥

Allahumma Allif Bainahuma Kama allafta baina Rasulillah wa Khadijatal Kubra..
Yaa Allah, Satukanlah Hati Mereka berdua sebagaimana Engkau Menyatukan Hati Rasulullah dgn Khadijah Al-Kubra....

 

Sabtu, 21 Juli 2012

Filosofi Ayah dan Bunga Mawarnya

'' Seorang gadis itu seperti bunga mawar dan ayah seperti pemilik kebun mawarnya''

Seseorang yang menanam bunga mawar, merawatnya, pasti tidak mungkin begitu saja memberikan bunga itu pada orang yang baru saja melihatnya, kemudian ingin memetiknya… Pemilik mawar itu pasti ingin memastikan apakah bunga mawar itu akan dirawat lebih baik atau minimal sama dengan sebelum diberikannya dengan si pemetik tadi.

'' Kenapa bunga mawar? Karena ayah ingin aku teguh, seperti mawar yang warnanya merah tegas. Ayah juga ingin aku selalu dapat menjaga diri sendiri, seperti mawar yang duri-durinya ada untuk melindunginya dari rampasan tangan yang kasar...
''Ah, Ayah… Aku paham bahwa bunga mawarmu ini harus tetap harum dan tak boleh ternoda oleh apapun! Kau ingin bunga mawarmu ini tetap indah dan terawat saat ia tak lagi ada di kebunmu, bukan? Jika pun aku ‘hanya’ menempati sebuah vas yang tak seluas kebunmu nantinya, kau hanya ingin sang pemilik vas itu memetikku dengan hormat dari pagar rumahmu, bukan? Aku paham Ayah.. Sebab di kebun orang tualah seorang gadis dapat bermanja dan merasakan cinta. Dan kau mungkin cemas jika aku tak mendapatkan cinta dan perlindungan, bukan? Ah, Ayah… kau seorang lelaki, dan siapapun yang akan menjadi suamiku nanti pun lelaki. Aku mengerti, Ayah… kau mungkin merasa cemas bahwa dalam pandanganmu, sepertinya… belum ada lelaki yang dapat mencintaiku seperti engkau! Iya kan, Ayah? Dan kau membuatku merasa beruntung menjadi bunga mawarmu...
''Ayah! Kau hanya perlu waktu untuk mengijinkan seseorang yang tepat untuk dapat memetikku dengan cara yang terhormat ''
  (Rabiah al-Adawiyah, 2005 dalam buku Diary Pengantin).
.